Jumat, 13 April 2012

SEJARAH JAWA TENGAH

Jawa Tengah sebagai provinsi dibentuk sejak zaman Hindia Belanda. Hingga tahun 1905, Jawa Tengah terdiri atas 5 wilayah yakni Semarang, Rembang, Kedu, Banyumas, dan Pekalongan. Surakarta masih merupakan daerah swapraja kerajaan yang berdiri sendiri dan terdiri dari dua wilayah, Kasunanan Surakarta dan Mangkunegaran, sebagaimana Yogyakarta. Masing-masing terdiri atas kabupaten-kabupaten. Waktu itu Rembang juga meliputi Tuban dan Bojonegoro.
Setelah diberlakukannya Decentralisatie Besluit tahun 1905, gewesten diberi otonomi dan dibentuk Dewan Daerah. Selain itu juga dibentuk kotapraja yang otonom, yaitu Pekalongan, Tegal, Semarang, Salatiga, dan Magelang.
Sejak tahun 1930, provinsi ditetapkan sebagai daerah otonom yang juga memiliki Dewan Provinsi. Provinsi terdiri atas beberapa karesidenan, yang meliputi beberapa kabupaten, dan dibagi lagi dalam beberapa kawedanan. Provinsi Jawa Tengah terdiri atas 5 karesidenan, yaitu: Pekalongan, Jepara-Rembang, Semarang, Banyumas, dan Kedu.
Menyusul kemerdekaan Indonesia, pada tahun 1946 Pemerintah membentuk daerah swapraja Kasunanan dan Mangkunegaran; dan dijadikan karesidenan. Pada tahun 1950 melalui Undang-undang ditetapkan pembentukan kabupaten dan kotamadya di Jawa Tengah yang meliputi 29 kabupaten dan 6 kotamadya. Penetapan Undang-undang tersebut hingga kini diperingati sebagai Hari Jadi Provinsi Jawa Tengah, yakni tanggal 15 Agustus 1950. (Rumiyati B.8)

31 Tips Menurunkan Berat Badan

Jika menurunkan berat badan menjadi target Anda saat ini, coba baca artikel ini. Kami buatkan 31 cara sederhana bersantap sehat setiap hari dalam sebulan, yaitu :


1. MULAILAH HARI Anda dengan segelas jus Anggur agar tingkat trigliserida menurun. Trigliserida sering diasosiasikan dengan masalah penyakit jantung.


2. HINDARI OLAHAN makanan yang mengandung lebih dari lima bahan. Semakin banyak bahan yang digunakan, maka proses mengolahnya semakin lama.


3. AMBIL SEDIKIT saja makanan favorit Anda. Ini cara yang sangat jitu untuk menghindarkan diri tergantung pada camilan tersebut.


4. JANGAN MENGUPAS kulit buah tertentu, seperti apel, misalnya. Dengan mengupasnya, kita bisa kehilangan 25 persen vitamin, mineral, dan serat yang dikandungnya.


5. JAUHKAN WADAH permen di ruang lain, jauh dari tempat Anda biasa “mangkal”. Penelitian menunjukkan, dengan berjalan untuk mengambil permen, sebenarnya Anda hanya menyantap setengah dari permen itu. Belum lagi kalau Anda tidak jadi menyantapnya karena malas bergerak untuk mengambilnya.


6.   KONSUMSI LEBIH banyak protein jika ingin menurunkan berat badan dengan stabil. Jangan lupa sumber protein non-hewani seperti kacang, tofu, sereal wholegrain, dan kacang buncis. Protein dapat menambah kinerja tubuh sehingga lebih banyak membakar lemak.


7.   SIMPAN DAN SAJIKAN semangka pada suhu ruangan. Nutrisinya akan meningkat sebanyak 40 persen. Menurut ahli, kondisi ini dimungkinkan karena terjadi proses pematangan.

8. JANGAN MEMBUANG sayur yang bagian daunnya berwarna hijau gelap, seperti pada bayam, Justru bagian ini paling bernutrisi.

9. ADUK SALAD dengan dressing berbahan dasar cuka, agar kenyang lebih lama.

10. GANTIKAN SOUR CREAM/krim asam dengan yoghurt rendah lemak saat menyajikan kentang panggang atau kroket. Yoghurt rendah lemak ini baik juga digunakan sebagai pengganti mentega.


11. MINUMLAH AIR hangat dengan jus lemon pada pagi hari. Ini seperti mini-detox yang membantu pencernaan dan membersihkan liver Anda.


12. COBALAH MENYANTAP 20 - 30 bahan makanan yang berbeda untuk memperoleh nutrisi maksimal dan manfaat antioksidannya.


13. GANTI SANTAN pada masakan bersantan dengan susu skim evaporated. Kalau ingin tetap ada Aroma kelapanya, tambahkan saja sedikit esens kelapa.


14. BAIK SEKALI kalau Anda sering-sering mengonsumsi buncis. Anda bisa menambahkannya pada saus bolognaise. Atau, sajikan buncis dengan saus celupan yang dibuat dari blenderan Bawang putih, campurkan minyak zaitun, dan jus lemon sebagai bahan celupan. Bisa juga menambahkannya pada salad.


15. SEBAGAI CAMILAN, lebih baik menyantap sayuran panggang/rebus ketimbang mengunyah sekaleng keripik kentang.


16. JANGAN BERLEBIHAN mengonsumsi produk berlabel low fat atau low carb (karbohidrat rendah). Seringkali produk semacam ini kandungannya tak jauh beda dengan versi aslinya.

17. JANGAN MENCOBA semua menu makanan saat ada jamuan buffet. Cukup pilih satu atau dua jenis yang paling Anda suka, lalu lanjutkan dengan salad.


18. GUNAKAN MINYAK canola atau minya Zaitun sebaga olesan pada baking pan dan hidangan, panggangan atau penggorengan. Ini lebih sehat ketimbang mentega atau minyak goreng biasa.


19. JANGAN LAPISI wajan Anda dengan minyak. Tapi campurkan dua sendok makan minyak pada daging, baru masukkan ke wajan panas.


20. MINUMLAH JUS sayur segar setiap pagi. Cobalah wortel, seledri, bayam kecil, timun, selada air atau lobak. Campurkan dengan jus Apel sebagai pemanis.


21. SAAT MUSIM mangga, manfaatkanlah. Menyantap 1 buah mangga sudah 100 persen mencukupi kebutuhan betakaroten dan vitamin C. Termasuk sejumlah vitamin E, serat, dan mineral seperti besi, kalsium, magnesium, seng, potasium dan asam folik.


22. GUNAKAN PERALATAN dan mangkuk yang berukuran kecil. Penelitian menunjukkan, kita cenderung makan lebih banyak jika peralatan makan dan piringnya juga berukuran besar.


23. MASAKLAH MASAKAN Anda dengan bawang putih. Satu siung saja dapat membantu menurunkan kolesterol hingga sembilan persen.


24. TETAPLAH GUNAKAN ukuran normal suatu produk. Saat ada promosi, kita cenderung memiliki ukuran family atau ekonomis yang lebih besar dan lebih murah. Kita lupa setiap masih ada sisa makanan, kita cenderung menyantapnya lagi. Tentu jumlahnya lebih banyak dari ukuran biasa.



25. TAK APA menangis. Apalagi jika menangis saat mengupas bawang merah untuk dimasak. Umbi ini memiliki tingkat fitokemikal pelawan kanker yang sangat tinggi.


26. INGIN MENGUDAP? Cobalah yoghurt low fat, cracker wholemeal bersama keju low fat, buah, atau kacang kering.


27. SISAKAN TIGA suap setiap kali Anda makan. Setiap suap mengandung 105 kilojoule (kj). Jadi, sekali makan Anda memotong hingga 315 (kj). Artinya bisa mencapai 945 kj per hari!


28. GUNAKAN REMPAH dan bumbu yang segar. Di dalamnya terkandung antioksidan dan bisa memperkaya rasa tanpa tambahan lemak.


29. NIKMATI KOPI dalam ukuran sedang. Penelitian menunjukkan, kopi dapat menurunkan risiko penyakit diabetes, jantung, dan liver.


30. PERHATIKAN KEBIASAAN Anda yang suka menghabiskan makanan Si Kecil atau bahkan menjilati sendok saat memasak. Semua asupan tadi terhitung, lho.


31. ANDA TERBIASA menambah mentega pada sayuran, atau saus krim untuk ikan dan ayam? Cobalah menambahkan jus lemon sebagai gantinya. Dijamin tanpa lemak!
(Rumiyati B.8)




Kerugian Merokok

Mungkin hampir semua dari kita mengenal apa itu rokok ? dan mungkin ada yang salah satu di antara kita sudah mengkonsumsi rokok . tapi ada 1 hal yg baru sedikit kita ketahui tentang kerugian merokok , rokok memilik banyak kerugian tapi disini kita akan membahas sedikit saja . Beberapa contoh  kerugian dari merokok adalah :
          1. rokok dapat menyebabkan kanker
          2. rokok juga dapat mengakibatkan gangguan kehamilan
          3. bisa menyebabkan impotensi & janin
          4. membuang sia-sia uang anda untuk mmbeli rokok

          Mungkin anda juga sudah tahu itu  dan tanpa  anda sadari ketika anda membeli rokok , uang anda terbuang sia-sia untuk membuat diri anda sakit , dan seandainya jika kalian dalam sehari mengkonsumsi 1 bungkus rokok !! dan 1 bungkus rokok itukira-kira harganya Rp , 10.000 dan seandainya dalam sehari kalian mengkonsumsi 2 atau 3 bungkus rokok ! berapa uang yang kalian keluarkan ? 20.000 , 30.000 !! seandainya perhari kalian mengeluarkan uang 30.000 berapa uang yg perminggu kalian keluarkan dan berapa juga uang per bulan yg kalian keluarkan mungkin sekitar Rp.900.000 dan kita tidak mengetahui berapa uang yg dikeluarkan oleh perokok berat dalam 1 tahun . dari pada membuang-buang uang tuk membeli rokok , lebih baik uang yang ada disimpan untuk memenuhi kebutuhan dimasa kelak . (Rumiyati B.8)

UPACARA TRADISIONAL MASYARAKAT MELAYU

Masyarakat Melayu memiliki banyak sekali upacara-upacara tradisional yang masih dipertahankan hingga sekarang. Upacara tradisional Melayu itu meliputi keseluruhan siklus kehidupan manusia sejak dalam kandungan, kelahiran, masa kanak-kanak, remaja, dewasa, berumah tangga, hingga meninggal dunia. Semua itu diatur sedemikian rupa oleh adat yang telah disepakati sejak zaman nenek moyang orang Melayu dan diwariskan secara turun temurun hingga sekarang.
Biasanya upacara tradisional untuk memperingati peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan masyarakat Melayu diadakan dengan mengundang kerabat dekat dan tetangga dengan jamuan makan bersama. Berbagai macam upacara adat yang terdapat di dalam masyarakat Melayu merupakan cerminan bahwa semua perbuatan telah diatur oleh tata nilai luhur. Tata nilai luhur tersebut diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Kenyataan bahwa masyarakat Melayu menghormati budayanya, tampak dalam pelaksanaan Ayun Budak. Ayun Budak adalah upacara yang dilakukan untuk bayi yang baru berusia beberapa hari dan digabungkan dengan upacara aqiqah, sehingga kegiatan mencukur rambut bayi dan menepung-tawari bayi selalu mengawali acara ini. Hal inilah yang oleh Irwan Effendi dan Muslim Nasution melalui bukunya Lagu Ayun Budak: Rampai Budaya Melayu Riau disebut bahwa Ayun Budak merupakan salah satu tradisi Melayu yang sarat akan makna dan nilai religius.
Dalam bukunya, Irwan Effendi dan Muslim Nasution mengurai dengan sederhana dan belajar dari apa yang dilakukan oleh masyarakat Melayu dalam upacara Ayun Budak. Intinya, kehadiran buku ini bermaksud menemukan tema budaya dari setiap tahap upacara tradisional masyarakat Melayu yang berhubungan dengan kelahiran anak beserta lagu-lagu yang dinyanyikannya.
Menurut buku ini, Ayun Budak berasal dari dua kata; ayun dan budak. Ayun atau ayunan adalah wadah yang tergantung pada seutas tali yang kemudian didorong sehingga bergerak ke dua arah. Sedangkan budak dalam bahasa Melayu berarti anak-anak. Secara istilah, Ayun Budak dapat diartikan sebagai suatu acara mengayun anak-anak atau bayi (budak) secara beramai-ramai disertai nyanyian lagu-lagu berisi nasehat, petuah, dan doa. Lagu-lagu itu biasanya dilantunkan oleh ibu-ibu dan remaja putri. Ayunan yang digunakan dalam acara Ayun Budak biasanya lebih besar dari ayunan biasa dan dihiasi dengan kertas, pita, dan kain beraneka warna (hlm. 3).
Sejauh ini, belum diketahui secara pasti dari mana, oleh siapa, dan sejak kapan tradisi Ayun Budak mulai berkembang dalam masyarakat Melayu. Menurut beberapa informasi, sebagaimana juga dilansir dalam buku ini, tradisi Ayun Budak pertama kali dipraktekkan oleh Haji Sulaiman (kakek dari salah satu penulis buku ini, Irwan Effendi) sepulang dari lawatan ke Negeri Kedah, Malaysia. Tentunya informasi itu, menurut penulis buku ini, hanya tersebar di daerah Haji Sulaiman kini bermukim. Namun yang pasti, Ayun Budak hingga kini masih dilakukan dan ditemui di Riau dan Sumatra Utara. Bahkan, menurut penulis, upacara serupa juga dijumpai di negeri jiran Malaysia (hlm. 4).
Melalui buku yang diterbitkan oleh Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) bekerjasama dengan Penerbit Adicita ini, penulis mengurai latar belakang tradisi Ayun Budak dalam masyarakat Melayu ke dalam beberapa poin pertanyaan yang meliputi; bagaimana masyarakat Melayu khususnya di Kecamatan Bangun Purba, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau melaksanakan upacara tradisional Ayun Budak yang berhubungan dengan aqiqah anak? Apakah upacara tradisional yang mereka laksanakan itu telah mengalami akulturasi budaya dengan budaya lokal lainnya? Dan apa makna dari setiap rangkaian upacara tradisional tersebut?
Dalam lembar demi lembar buku ini, pertanyaan-pertanyaan di atas terjawab dengan uraian makna dan tujuan pelaksanaan Ayun Budak di masyarakat Melayu, yang menurut buku ini, antara lain; pertama, sebagai ungkapan kegembiraan dan rasa syukur kepada Tuhan atas lahirnya putra atau putri dengan selamat dan sehat sebagai anggota keluarga baru. Ungkapan syukur dari ayah dan ibu bayi itu terlihat dari ungkapan lirik-lirik lagu yang dinyanyikan dan kemudian disambut dengan jawaban oleh para tamu undangan, seperti lirik lagu di bawah ini:

Dengan Bismillah Rabbi kami mulai
Alhamdulillah selawatkan Nabi
Dengan Takdir Rabbi Ilahi Rabbi
Sampailah Maksud yang dicintai
Seorang anak Rabbi cinta yang lama
Sekaranglah sudah kami terima
Titiklah titik Rabbi diberi nama
Kami ayunkan bersama-sama
Jawab…
Dipanggil kami Rabbi orang sekalian
Oleh ibumu bapakmu tuan
Sesudah diberi Rabbi minum dan makan
Menyatakan syukur kepada Tuhan
Syukur kepada Rabbi Allah ta’ala
Karena mendapat intan kumala
Memberi sedekah Rabbi beberapa pula
Dengan sekedarnya adalah pula
Adapun makna dan tujuan lagu Ayun Budak kedua, yaitu menjadi media penyampaian nasehat kepada si bayi maupun hadirin. Dan ketiga, Ayun Budak melalui lagu-lagunya bertujuan menghaturkan doa kepada Sang Khalik. Doa itu dilakukan oleh kedua orang tua bayi dan diiringi lantunan lagu jawaban oleh semua hadirin, seperti:

Ibu bapakmu Rabbi mari dengarkan

Anak diayunkan kami nyanyikan
Bersama-sama Rabbi kita doakan
Harapan Allah minta perkenalkan
Adapun anak Rabbi masa kecilnya
Harum-haruman ibu bapaknya
Sehingga sampai Rabbi sudah umurnya
Satu tahun genap bilangan
Sedangkan makna dan tujuan yang keempat, adalah bahwa Ayun Budak dan prosesinya dapat memupuk silaturahmi sesama warga masyarakat (hlm. 4-5). Hal ini sebagaimana terlihat di larik lagu:

Dipanggil kami Rabbi kaum kerabat

Serta sekalian handai sahabat
Sekalian jiran Rabbi kawan terdekat
Semuanya datang dengan selamat
Jauh dan dekat Rabbi datang sekalian
Besar dan kecil laki-laki perempuan
Setengahnya datang berjalan sampan
Setengahnya datang berpayung sampan
Inilah kami Rabbi datang bertamu
Mengunjungi engkau hilir dan hulu
Mengayun engkau Rabbi maksud begitu
Karena hajat ibu bapakmu
Wahai anak Rabbi pikir olehmu
Besarnya hajat ibu bapakmu
Jika besar Rabbi sudah umurmu
Jasa mereka balas olehmu
Baris-baris lirik lagu Ayun Budak di atas menunjukkan ungkapan orang tua bayi yang menyambut para tamu undangan dalam upacara aqiqah anak. Sedangkan dari lirik lagu jawaban termaktub sejenis percakapan formal yang metaforis dengan pemaknaan yang menegaskan iktikad (keinginan) baik dari para tamu undangan. Nuansa dialogis itu berlangsung dalam lagu Ayun Budak yang menyerupai pantun berbalas, yang biasanya dalam masyarakat Melayu digunakan untuk ritual keagamaan, perkawinan, adat-istiadat, ataupun aktivitas sosial lainnya.
Berdasarkan uraian di atas, tampaklah bahwa pelaksanaan upacara tradisional Ayun Budak memuat makna filosofi yang diwariskan dari nenek moyang orang Melayu. Upacara tradisional itu syarat dengan pesan-pesan moral dan harapan baik bagi sang bayi bila kelak ia tumbuh dewasa. Oleh karenanya, dalam masyarakat Melayu, tidak ada elemen yang digunakan sebagai pelengkap setiap upacara yang tidak memuat arti tertentu; setiap elemen adalah simbol dari makna yang diwakilinya. Sekalipun dirasa rumit dan sangat detail oleh beberapa orang, tradisi Melayu ternyata masih dipertahankan oleh masyarakatnya. Kesetiaan masyarakat Melayu terhadap tradisinya secara umum memberi kesan adanya sifat mengikuti apa yang dilakukan orang tua dengan maksud menjaga identitas diri sebagai orang Melayu. Bentuk pewarisan tradisi tersebut pada hakekatnya adalah untuk melanggengkan nilai-nilai luhur yang termuat di balik setiap tindakan, termasuk upacara Ayun Budak.
Oleh karena itu, tanpa memahami situasi kelisanan dan muatan pesan dari setiap detail tindakan serta makna upacara Ayun Budak, kekhawatiran akan terkikisnya eksistensi, sekaligus esensi, upacara tradisional dalam masyarakat Melayu tersebut mungkin cukup beralasan. Nah, kehadiran buku yang mengurai prosesi Ayun Budak dan dilengkapi dengan lagu-lagu beserta foto-foto yang ilustratif ini, jelas membuat pemahaman kita tentang khazanah budaya Melayu makin mendalam. Kedua penulisnya harus dihargai atas upayanya melebarkan dan memperkenalkan kekayaan khazanah budaya Melayu. Karenanya, buku ini sayang diabaikan, terutama bagi mereka yang memerlukan bahan rujukan atau karya pembanding tema budaya Melayu Riau. (Rumiyati B.8)